Lembar Kerja Pengamatan PKK Kisah Sukses Chairul Tanjung
Bidang Usaha : Pendiri sekaligus Pemimpin CT Crop
Prinsip :
1. Berbakti kepada orang tua
3. Jagalah silaturahim dengan siapapun
4. Kerja keras dengan standar tinggi dan hasil terbaik
5. Berani mengambil resiko
6. Menjadi rahmatan lil'alamin
Prestasi:
1. Urutan 937 dari 1000 orang terkaya di dunia versi majalah forbes
2. Mahasiswa teladan Tingkat Nasional (1984 - 1985) - Penghargaan sebagai anggota civitas akademika yang berjasa kepada fakultas dan universitas
3. Eksekutif muda berprestasi 1992-1993 dari Studio Seven Production, Jakarta (23 Mei 1993)
4. Soegeng Sarjadi Award.
5. Peraih Majelis Ulama Indonesia (MUI) Award 2015
Cerita Hidup:
Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama di sebuah surat kabar kecil. Chairul pernah dalam keluarga bersama enam saudara lainnya. Pengusaha sukses asal Indonesia ini dikenal luas sebagai pendiri sekaligus pemimpin CT Corp (sebelum 1 Desember 2011 bernama Para Group).
a. SD Van Lith, Jakarta (1975)
b. SMP Van Lith, Jakarta (1978)
c. SMA Negeri I Boedi Oetomo, Jakarta (1981)
d. Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)
e. Executive IPPM (MBA; 1993)
Kisah Hidup Perjalan Chairul Tanjung Si Anak Singkong telah ditulis dalam
sebuah buku yang berjudul “si anak singkong” buku ini mengisahkan tentang
perjalanan hidup Chairul tanjung dari kecil hingga sukses seperti
saat ini. Buku setebal 360 halaman yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK)
ini disusun oleh wartawan Kompas Tjahja Gunawan Adiredja. Buku ini diberi kata
pengantar oleh Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas,
Menurut
saya buku ini sangatlah inspiratif dan penting sekali untuk kita baca.
Penuturan cerita yang apa adanya membuat jauh dari kesan berlebihan atau
mendramatisir keadaan. Berbagai kisah yang membuat saya tergetar haru dan
speechless.
Buku
yang merupakan kisah perjalanan hidup seorang pengusaha sukses di negeri ini.
Chairul Tanjung, adalah pemilik beberapa perusahaan besar seperti stasiun
televisi swasta ( Trans TV), Trans Studio, hotel, bank, dan terakhir
kabarnya menjadi salah salah satu pembeli 10% saham perusahaan penerbangan
papan atas Indonesia ( Garuda ) dsb dll.
Untuk
menuliskan ekstrak sebuah buku setebal 384 halaman tentu tidak cukup mudah.
Namun di sini saya ingin berbagi sedikit kisah yang semoga bermanfaat bagi Anda
yang belum sempat membaca buku tersebut ( sejujurnya, saya berharap sahabat
semua menyempatkan untuk membacanya suatu saat nanti). Maka, saya coba
menuangkan beberapa kenangan masa kanak-kanak hingga masa kuliah saja, segera
setelah saya selesai membacanya, hari ini.
Chairul
Tanjung kecil melalui hari-hari penuh keceriaan sebagai anak pinggiran kota
Metropolitan. Bermain bersama teman-teman dengan membuat pisau dari paku yang
digilaskan di roda rel dekat rumahnya di Kemayoran, adalah kegiatan seru yang
menyenangkan. Juga bersepeda beramai-ramai di akhir pekan ke kawasan Ancol,
sambil jajan penganan murah, buah lontar.
Kelas
1 hingga kelas 2 SD sekolah diantar jemput oleh Kak Ana, seorang sanak keluarga
dari Sibolga, dengan naik oplet. Selanjutnya kelas 3 SD sudah bisa pulang-pergi
sekolah sendiri.
Saat
usia SMP, Bapaknya ( Abdul Gafar Tanjung ) yang saat itu telah mempunyai
percetakan, koran, transportasi dll gulung tikar dan dinyatakan pailit oleh
pemerintah karena idealismenya yang bertentangan dengan pemerintah yang
berkuasa saat itu ( Soeharto). Sang ayah adalah Ketua Partai Nasional Indonesia
(PNI) Ranting Sawah Besar. Semua koran Bapaknya dibredel. Semua aset dijual
hingga tak memiliki rumah satu pun.
Mungkin
demi gengsi, di awal-awal, Bapaknya menyewa sebuah losmen di kawasan Kramat
Raya, Jakarta untuk tinggal mereka sekeluarga. Hanya satu kamar, dengan kamar
mandi di luar yang kemudian dihuni 8 orang. Kedua orang tua Chairul, dan 6
orang anaknya, termasuk Chairul sendiri.
Tidak
kuat terus-menerus membayar sewa losmen, mereka kemudian memutuskan pindah ke
daerah Gang Abu, Batutulis. Salah satu kantong kemiskinan di Jakarta waktu itu.
Rumah tersebut adalah rumah nenek Chairul, dari ibundanya, Halimah.
Ibunya
adalah sosok yang jarang sekali mengeluhkan kondisi, sesulit apapun keadaan
keluarga. Namun saat itu, Chairul melihat raut wajah ibunya sendu, tidak ceria
dan tampak lelah. Setelah ditanya, lebih tepatnya didesak Chairul, Ibunya baru
berucap : ”Kamu punya sedikit uang, Rul? Uang ibu sudah habis dan untuk belanja
nanti pagi sudah tidak ada lagi. Sama sekali tidak ada”.
(
Tidak diceritakan lebih jelas akhirnya mendapat solusi dari mana, namun kita
bisa tahu bahwa di usia SMP, Chairul sudah menyadari bagaimana kesulitan orang
tuanya, bahkan untuk makan sehari-hari. Dan Ibunya adalah sosok yang sangat
tabah menjalani kerasnya kehidupan).
Setamat
kuliah, Chairul berekan dengan orang lain dalam membangun sebuah pabrik sepatu.
Setelah 3 bulan awal dimulainya pabrik tersebut dilalui dengan terlunta-lunta
dengan tanpa pesanan. Disaat pabrik terancam bangkrut, datanglah pesanan sendal
dari luar negeri sejumlah 12.000 pasang dengan estimasi 6.000 pasang dikirim
awal. Dan berubahlah pabrik tersebut dari pabrik sepatu menjadi pabrik sendal.
Saat melihat hasil kerja pabrik tersebut, pihak pemesan merasa tertarik dan
langsung melakukan pesanan kembali bahkan mencapai angka 240.000 pasang padahal
yang awalnya 12.000 pasang tadi masih 6.000 pasang yang dikirim. Mulailah
pabrik tersebut berkembang. Setelah beberapa lama akhirnya Chairul memutuskan
berhenti berekan dan mulai membangun bisnis dengan modal pribadi dan menjelma
menjadi pengusaha yang mandiri.
Pada
tahun 1994, Chairul resmi meminang gadis pujaannya yaitu Anita yang juga
merupakan adik kelasnya sewaktu kuliah. Dan pada tahun 1996, Chairul memperoleh
berkah yang berlimpah karena pada tahun tersebut lahirlah anak pertamanya dan
bersamaan dengan diputuskannya Chairul sebagai pemilik dari Bank Mega.
Chairul
Tanjung dikenal sebagai pengusaha yang agresif, ekspansi usahanya merambah
segala bidang, mulai perbankan dengan bendera Bank Mega Group,
pertelivisian Trans TV dan Trans 7, hotel dengan
bendera The Trans, di bidang supermarket, CT (panggilan akrab Chairul
Tanjung) mengakuisisi Carrefour, pesawat terbang, hingga bisnis hiburan TRANS
STUDIO, dan bisnis lainnya.
Riwayat
kehidupan CT kecil bisa dikatakan terlahir dari keluarga cukup berada
kala itu. Dia mempunyai enam saudara kandung. A.G. Tanjung, ayahnya,
adalah mantan wartawan pada era Orde Lama dan pernah menerbitkan
surat kabar dengan oplah kecil.
Namun,
ketika terjadi pergantian era pemerintahan, usaha ayahnya itu tutup karena
ayahnya mempunyai pemikiran yang berseberangan dengan penguasa politik saat
itu. Keadaan tersebut memaksa kedua orang tuanya menjual rumah dan harus rela
menjalani hidup seadanya. Mereka pun kemudian menyewa sebuah losmen dengan
kamar-kamar yang sempit.
Kondisi
ekonomi keluarganya yang sulit membuat orang tuanya tidak sanggup membayar uang
kuliah Chairul yang waktu itu hanya sebesar Rp75.000. “Tahun 1981 saya diterima
kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Uang masuk
ini dan itu total Rp75.000. Tanpa saya ketahui, secara diam-diam ibu
menggadaikan kain halusnya ke pegadaian untuk membayar uang kuliah,” katanya
lirih.
Melihat
pengorbanan sang ibu, ia lalu berjanji tidak ingin terus-menerus menjadi beban
orang tua. Sejak saat itu, ia tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya.
Ia bertekad akan mencari akal bagaimana caranya bisa membiayai hidup dan
kuliah.
Choirul
Tanjung pria kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 pada awalnya memulai bisnis
kecil-kecilan. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya
di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku
kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada
teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan
kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat
sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering
menraktir teman – usaha itu bangkrut.
Memang
terbilang terjal jalan yang harus ditempuh Chairul Tanjung sebelum
menjadi orang sukses seperti sekarang ini. Kepiawaiannya membangun jaringan
bisnis telah memuluskan perjalanan bisnisnya. Salah satu kunci sukses dia
adalah tidak tanggung-tanggung dalam melangkah.
Menurut
penuturan Chairul, gedung tua Fakultas Kedokteran UI dulu belum
menggunakan lift. Dari lantai satu hingga lantai empat masih menggunakan
tangga. Lewat ruang kosong di bawah tangga ini, Chairul muda melihat peluang
yang bisa dimanfaatkannya untuk menghasilkan uang.
“Nah,
kebetulan ada ruang kosong di bawah tangga. Saya lalu berpikir untuk bisa
memanfaatkannya sebagai tempat fotokopi. Tapi, masalahnya, saya tidak mempunyai
mesin fotokopi. Uang untuk membeli mesin fotokopi pun tidak ada,” tuturnya.
Dia
pun lantas mencari akal dengan mengundang penyandang dana untuk menyediakan
mesin fotokopi dan membayar sewa tempat. Waktu itu ia hanya mendapat upah dari
usaha foto kopi sebesar Rp2,5 per lembar. “Sedikit ya. Tapi, karena itu daerah
kampus, dalam hal ini mahasiswa banyak yang fotokopi, maka jadilah keuntungan
saya lumayan besar,” katanya sambil melempar senyum.
Tidak
hanya sampai di situ, ia pun terus berusaha mengasah kemampuannya dalam
berbisnis. Usaha lain, seperti usaha stiker, pembuatan kaos, buku kuliah
stensilan, hingga penjualan buku bekas dicobanya. Usai menyelesaikan kuliah,
Chairul memberanikan diri menyewa kios di daerah Senen, Jakarta Pusat, dengan
harga sewa Rp1 juta per tahun.
Kios
kecil itu dimanfaatkannya untuk membuka CV yang bergerak di bidang
penjualan alat-alat kedokteran gigi. Sayang, usaha tersebut tidak berlangsung
lama karena kios tempat usahanya lebih sering dijadikan tempat berkumpul
teman-temannya sesama aktivis. “Yang nongkrong lebih banyak ketimbang yang
beli,” kata mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985 ini.
Selang
berapa tahun, ia mencoba bangkit dan melangkah lagi dengan menggandeng dua
temannya mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu.
Ia
mendapatkan kredit ringan dari Bank Exim sebesar Rp150 juta.
Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya mendapat
pesanan sebanyak 160.000 pasang dari pengusaha Italia.
Bisnisnya
terus berkembang. Ia mulai mencoba merambah ke industri genting, sandal, dan
properti. Namun, di tengah usahanya yang sedang merambat naik, tiba-tiba dia
terbentur perbedaan visi dengan kedua rekannya. Ia pun memutuskan memilih
mundur dan menjalankan sendiri usahanya.
Memang
tidak jaminan, seseorang yang berkarier sesuai dengan latar belakang
pendidikannya akan sukses. Kenyataannya tidak sedikit yang berhasil justru
setelah mereka keluar dari jalur.
“Modal
dalam usaha memang penting, tapi mendapatkan mitra kerja yang andal adalah
segalanya. Membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas dalam
menjalankan bisnis,” ujar Chairul Tanjung yang lebih memilih menjadi seorang
pengusaha ketimbang seorang dokter gigi biasa.
Dan
pilihannya untuk menjadi pengusaha menempatkan CT sebagai salah satu orang
terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah
prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha
kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.
Hal
itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa
adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun
tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai
kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis
Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari
50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.
Kini
Grup Para mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti.
Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Aanya yaitu
bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal
berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil
mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.
Langkah
ekspansi selanjutnya adalah mendirikan perusahaan patungan dengan mantan wapres
Jusuf Kalla membentuk taman wisata terbesar “TRANS STUDIO” di Makassar, untuk
menyaingi keberadaan Universal Studio yang ada di Singapura. Taman hiburan
dalam ruangan terbesar di Indonesia inipun sekarang telah merambah kota
Bandung, dan sebentar lagi kota-kota besar di Indonesia lainnya.
Chairul merupakan
salah satu dari tujuh orang kaya dunia asal Indonesia. Dia juga satu-satunya
pengusaha pribumi yang masuk jajaran orang tajir sedunia. Enam wakil Indonesia
lainnya adalah Michael Hartono, Budi Hartono, Martua Sitorus, Peter Sondakh,
Sukanto Tanoto dan Low Tuck Kwong.
Berkat
kesuksesannya itu Majalah Warta Ekonomi menganugerahi Pria Berdarah
Minang/Padang sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun
2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi
majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.
Sifat-sifat/karakter
yang dimiliki:
1. Religius
2. Peduli
3. Visioner
4. Optimis
5. Jujur
6. Tekun
7. Pekerja Keras
8. Tegas
9. Sabar
10. Penyayang
Hal apa yang dilakukan mereka kepada lingkungan:
Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis,
mengembangkan jaringan adalah penting. Selain itu memiliki rekanan yang
baik sangat diperlukan. Membangun relasi pun bukan hanya kepada perusahaan
yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi
Chairul, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembangnya bisnis yang
dikerjakan. Ketika bisnis pada kondisi tidak bagus (baca: sepi pelanggan) maka
jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul, bahkan berteman dengan petugas
pengantar surat pun adalah penting. Menurutnya modal memang penting dalam
membangun dan mengembangkan bisnis. Namun kemauan dan kerja keras, merupakan
hal paling pokok yang harus dimiliki seseorang yang ingin sukses. Baginya
mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Di mana membangun
kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya
berjejaring dalam menjalankan bisnis. Dalam bisnis, Chairul menyatakan
bahwa generasi muda sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu
persatu. Menurutnya membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan
telapak tangan. Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah.
Jangan sampai banyak yang mengambil jalan seketika, karena dalam dunia usaha
kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam mencuri hati
pasar. Membangun integritas adalah penting bagi Chairul. Adalah manusiawi
ketika berusaha, seseorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Namun tidak semua
hasil bisa diterima secara langsung.
Pendapatmu tentang tokoh tersebut:
Dia merupakan salah satu tokoh yang sangat hebat,
karena dia tetap mau berusaha walaupun dalam keadaan ekonomi yang kurang
memumpungi.
Rujukan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Chairul_Tanjung


Komentar
Posting Komentar